Identitas Buku
Judul Buku :
Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa
Penyusun :
Dr. Henry Guntur Tarigan
Penerbit : Angkasa Bandung
Tahun Terbit :
1984
Cetakan : ke (angka terakhir)
10 9 8 7 6 5 4 3 2
10 9 8 7 6 5 4 3 2
Kota :
Bandung
Jumlah halaman :
197 halaman
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Keterampilan
Berbahasa: Komponen-komponennya.
Keterampilan
berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu: keterampilan menyimak, keterampilan
berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.
Setiap keterampilan itu erat sekali
berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam.
Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan
urutan yang teratur, mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa
kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan
berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut
pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
1.2 Menulis
Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Menulis merupakan suatu keterampilan
berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak
secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang
produktif dan ekspresif.
1.2.1
Hubungan antara menulis dan membaca
Antara menulis dan membaca terdapat
hubungan yang sangat erat, bila kita menuliskan sesuatu maka pada prinsipnya
kita ingin agar tulisan itu dibaca oleh orang lain, paling sedikit dapat kita
baca sendiri pada saat lain. Demikianlah hubungan antara menulis dan membaca
pada dasarnya adalah penulis dan pembaca.
Tugas sang penulis adalah
mengatur/menggerakkan suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan tertentu
dalam bayangan/kesan pembaca. Khusus mengenai menulis, kualifikasi yang
dituntut adalah sebagai berikut:
a.
Kualifikasi
Minimal. Mampu menulis dengan tepat kalimat-kalimat atau pun
paragraf-paragraf seperti yang akan dikembangkan secara lisan bagi
situasi-situasi kelas, dan menulis surat sederhana yang singkat.
b.
Kualifikasi
Baik. Mampu menulis “komposisi bebas” yang sederhana
dengan kejelasan dan ketepatan dalam kosa kata, idiom, dan sintaksis.
c.
Kualifikasi
Unggul. Mampu menulis beraneka ragam pokok pembicaraan
(subyek) dengan idiom yang wajar, ekspresi yang cerah serta mudah dipahami, dan
perasaan yang tajam terhadap gaya bahasa yang beraneka ragam dalam bahasa
target.
1.2.2
Hubungan antara menulis dan
berbicara
Kedua-duanya memiliki ciri yang sama
yaitu produktif dan ekspresif. Perbedaannya ialah bahwa dalam menulis
diperlukan pendengaran dan pengucapan. Baik menulis maupun berbicara harus
memperhatikan komponen-komponen yang sama yaitu: struktur kata/bahasa, kosa kata,
kecepatan/kelancaran umum, bedanya ialah bahwa menulis berkaitan dengan
ortografi, maka berbicara berkaitan erat dengan fonologi.
1.3 Menulis
Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Secara luas dapat dikatakan bahwa
“komunikasi” adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan yang
pasti terjadi sewaktu-waktu bila manusia atau binatang-binatang ingin
berkenalan dan berhubungan satu sama lain.
1.4 Batasan,
Fungsi, dan Tujuan Menulis
Menulis adalah menurunkan atau
melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami
oleh seseorang orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut
kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Penulis yang ulung adalah penulis
yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan
dan dimanfaatkan itu adalah: maksud dan tujuan sang penulis, pembaca dan
pemirsa, dan waktu dan kesempatan.
Sehubungan dengan “tujuan” penulisan
sesuatu tulisan, maka Hugo Hartig merangkumkan sebagai berikut : tujuan penegasan,
tujuan altruistic, tujuan persuasif, tujuan informational, tujuan pernyataan
diri, dan tujuan pemecahan masalah.
1.5 Ragam
Tulisan
Deskripsi
(pemerian), narasi (penceritaan atau pengisahan), eksposisi (paparan), argumentasi
(pembahasan atau pembuktian), dan persuasi (membujuk).
BAB 2
TULISAN BERNADA AKRAB
2.1 Tulisan Pribadi : Makna dan
Manfaat
Tulisan pribadi adalah suatu bentuk
tulisan yang memberikan sesuatu yang paling menyenangkan dalam penjelajahan
diri pribadi sang penulis. Hanya catatan atau laporan pribadi yang terbuka
sajalah yang dapat menangkap kembali atau merekam secara tepat apa-apa yang
telah kita rasakan atau alami pada masa lalu. Di samping kegunaan sesuatu
laporan tertulis, maka perlu kita sadari bahwa peranan yang paling penting dari
menulis adalah nilainya itu sendiri.
2.2 Ciri-ciri
Tulisan Pribadi
Tulisan pribadi adalah suatu pernyataan dari
gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai pengalaman-pengalaman
kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita sendiri ataupun bagi
kepentingan dan kenikmatan sanak keluarga atau sahabat karib. Tulisan pribadi
dapat berbentuk suatu :
a. Buku harian
(diary)
b. Catatan
harian, jurnal (journal)
c. Cerita tidak
resmi (informal narrative)
d. Surat
(letter)
e. Puisi (poem)
2.3 Bentuk-bentuk
Tulisan Pribadi
Berdasarkan bentuknya, tulisan pribadi
dapat diklasifikasikan atas: buku/catatan harian, jurnal (journal), cerita yang
bersifat otobiografis (autobiographical narrative), lelucon yang bersifat
otobiografis (autobiographical annecdote), esei pribadi (personal essay), dan catatan
harian (jurnal).
2.4 Catatan
Harian (Jurnal)
Menata buku
harian merupakan suatu alternatif sangat baik yang memberikan
keuntungan-keuntungan.
2.5 Cerita
Otobiografis
Dititikberatkan
pada tiga hal yaitu: makna dan ciri-ciri, teknik-teknik penulisan dan beberapa
petunjuk menulis cerita otobiografis.
2.6 Lelucon
Otobiografis
Lelucon dapat
dibuat berobyekkan orang lain dan dapat juga berasal dari diri sendiri. Sadar
atau tidak, kita sering mengucapkan lelucon-lelocun otobiografis, yaitu
lelucon-lelucon yang berhubungan dengan riwayat hidup kita sendiri pada saat
berbincang-bincang untuk menggelikan hati para teman atau menarik perhatian
mereka kepada peristiwa itu sendiri.
2.7 Esei
Pribadi
Merupakan salah
satu jenis dari esei yang mempunyai dua bagian/cabang utama yaitu formal dan
informal, resmi dan tidak resmi.
2.8 Siasat
Perbaikan Tulisan Pribadi
Cara yang tepat
guna untuk memperbaiki atau merevisi sepenggal tulisan tertentu adalah
merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang ada hubungannya dengan
kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan khusus perencanaan tulisan tersebut.
BAB 3
TULISAN BERNADA
PENERANGAN
3.1 Tujuan Tulisan Bernada
Penerangan
“Pengalaman adalah guru yang
terbaik”, orang-orang tua. Bahkan sering ditambahkan “lama hidup”, banyak dan
kian beraneka ragam pula yang kita lihat, dengar, rasa dan nikmati, kecap atau
cium. Pendek kata : hidup adalah pengalaman.
3.2 Ragam Tulisan Pemerian
Ditinjau dari segi bentuknya,
tulisan pemerian dapat dibagi atas: pemerian faktual dan pemerian pribadi.
3.3 Perbedaan Antara Pemerian
Faktual dan Pemerian Pribadi
Perbedaan antara pemerian faktual
dengan pemerian faktual agaknya dapat dinamakan degan perbedaan yang terdapat
antara gambar foto dengan gambar lukisan. Walaupun si tukang foto berusaha
memilih sudut pandangan, cahaya, komposisi, pembukaan lensa, dan kecepatan
membidik dengan sebaik-baiknya dan dengan secepat-cepatnya, tetapi kebebasan
mereka terbatas. Itu berarti menggambarkan subyek atau sasaran seperti adanya
kepada kebanyakan orang.
BAB 4
TULISAN BERNADA
PENJELASAN
4.1 Makna dan
Tujuan Tulisan Bernada Penjelasan
Tulisan yang bernada penjelasan
biasanya disebut tulisan penyingkapan. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa hampir
semua yang kita tulis dapat dilasifikasikan sebagai tulisan informatif, tulisan
yang bernada memberi penerangan.
4.2 Pokok
Permasalahan dan Pembaca.
Dalam tulisan pribadi dan tulisan
pemerian, kita dapat beranggapan bahwa para pembaca belum biasa terhadap pokok
pembicaraan dan sesuai dengan itu kita harus menganalisis penikmat untuk
menyadari apa yang telah mereka ketahui, apa yang ingin mereka ketahui dan apa
yang mereka ketahui.
4.3 Bentuk-bentuk
tulisan penyingkapan.
Berdasarkan bentuknya, tulisan penyingkapan dapat
dibagi atas: klasifikasi, definisi, analisis dan opini.
a. Klasifikasi
merupakan suatu prosedur penyaringan yang memudahkan para penulis berusaha
mengatasi suatu pokok pembicaraan yang luas yang dengan jalan membagi-baginya
menjadi beberapa bagian.
b. Definisi
adalah penyingkapan yang merupakan dasar bagi semua tulisan yang bertujuan
untuk menjelaskan.
c. Analisis
merupakan suatu proses pembagi-bagi bahan bagi maksud-maksud penyingkapan.
d. Opini
menuntut perhatian pada hubungan-hubungan logis.
BAB 5
TULISAN BERNADA MENDEBAT
5.1 Tulisan yang
bersifat menyakinkan.
Tulisan persuasif adalah tulisan
yang dapat merebut perhatian pembaca, yang dapat menarik minat, dan yang dapat
menyakinkan mereka bahwa pengalaman membaca merupakan suatu hal yang amat
penting. Ciri-ciri tulisan persuasif antara lain sebagai berikut :
a. Tulisan
persuasif haruslah jelas dan tertib.
b.
Tulisan persuasif haruslah hidup dan
bersemangat.
c.
Tulisan persuasif beralasan kuat.
d.
Tulisan persuasif harus bersifat
dramatik.
5.2 Persuasif
logis.
Persuasi logis, atau yang biasa
disebut argumentasi, dipergunakan pada situasi-situasi resmi seperti
perdebatan-perdebatan, dan pada pengadilan-pengadilan tinggi.
5.3 Penalaran
keliru.
Pada masa kini setiap hari dipadati
oleh slogan-slogan iklan dan pidato-pidato politik. Hal ini mungkin saja
menantang serta meragukan pendirian banyak orang bahwa penalaran logis yang
terpercaya merupakan saran terbaik bagi kekuatan persuasif.
5.4 Rangkuman.
Susunan yang bersifat menyakinkan
hendaklah mempertunjukkan jenis-jenis hubungan logis yang sama antara proposi
atau masalah dan argumen-argumen penunjangnya yang ada diantara konklusi suatu
silogisme dan premis-premis yang secara logis menuju ke sana.
BAB 6
TULISAN YANG BERNADA MENGKRITIK
Tulisan yang bernada mengkritik menghasilkan
tulisan mengenai sastra. Agar dapat menghasilkan tulisan yang bernada mengkritik
dengan baik, maka seseorang harus terlebih dahulu membaca karya yang akan
dianalisis secara kritis. Ini merupakan syarat mutlak.
6.1 Peranan
Penulis Sastra.
Dalam merencanakan dunia fiksi ini,
para penulis memegang peranan yang beraneka ragam, antara lain :
a. Penulis sebagai
pemimpin/pengelola pentas: sebagai sutradara.
Sebagai sutradara, maka sang penulis memusatkan
perhatian pada aspek-aspek teknis karya mereka.
b. Penulis
sebagai penulis cerita.
Sebagai penulis cerita, penulis naskah maka sang
sastrawan berhadapan dengan aspek-aspek retorik sesuatu karya sastra. Aspek
tersebut adalah :
Ø
Sudut pandangan.
-Sudut
pandangan terpusat pada orang pertama.
-Sudut
pandangan berkisar sekeliling orang pertama.
-Sudut
pandangan orang ketiga terbatas.
-Sudut
pandangan orang ketiga serba tahu.
Ø
Bahasa
Berbagai
gaya bahasa dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan karya sang pengarang,
antara lain:
-Aliterasi
(pengulangan bunyi-bunyi yang sama)
-Antanaklasis
(pengulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda)
-Antitesis
(perbandingan dua buah antonim, yaitu kata-kata yang berlawanan makna)
-Khiasmus
(pengulangan serta inversi hubungan antara dua kata dalam kalimat)
Ø
Penokohan
c. Penulis
sebagai direktur atau pemimpin.
Peranan penulis sastra sebagai direktur adalah
membentangkan tahap-tahap makna yang telah menjadi sifat karya tersebut.
6.2 Tokoh
Penokohan atau karateristik adalah
proses yang dipergunkan oleh seseorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh
fiksinya. Tokoh fiksi dilihat sebagai yang berada pada suatu masa dan tempat
tertentu dan haruslah pula diberi motif-motif yang masuk akal bagi segala
sesuatu yang dilakukannya.
Istilah alur yang sama maknanya
dengan alur atau plot. Ini adalah trap
atau dramatic conflict. Keempat
istilah ini bermakna “struktur gerak atau laku dalam suatu fiksi atau drama”.
Setiap fiksi haruslah bergerak dari
suatu permulaan, melalui suatu pertengahan, menuju suatu akhir atau dengan
istilah lain dari suatu eksposisi melalui komplikasi menuju resolusi.
6.4 Latar
Latar atau setting adalah lingkungan
fisik tempat kegiatan berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, latar mencakup tempat
waktu dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dalam kegiatan
itu.
6.5 Waktu
Waktu dalam suatu karya memang
sangat penting dalam hubungannya dengan seleksi yang diadakan oleh sang
pengarang, baik terhadap urutan waktu dalam penampilan penyajian karya
tersebut, maupun terhadap masa atau periode penimbulannya.
6.6 Tema
Tema adalah gagasan utama atau pikiran
pokok. Tema suatu karya sastra imajinatif merupakan pikiran yang akan ditemui
oleh setiap pembaca yang cermat sebagai akibat membaca karya tersebut. Tema
biasanya merupakan suatu komentar mengenai kehidupan atau orang –orang.
6.7 Teknik
Analisis terhadap sesuatu karya
sastra belumlah dikatakan lengkap tanpa suatu telaah mengenai teknik pengarang,
sarana-sarana artistik yang membayangkan isi. Teknik ini akan ditambahi lagi
dengan gaya bahasa ironi, paradoks, simbolisme dan metafora.
BAB 7
TULISAN BERNADA OTORITATIF
Tulisan yang bernada
otoritatif menghasilkan karya ilmiah (the research paper). Tahap-tahap yang biasanya
dilalui dalam tulisan ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Memilih pokok/topik.
2. Membaca pendahuluan.
3. Menentukan bibliografi pendahuluan.
4. Membuat kerangka pendahuluan.
5. Membuat catatan.
6. Menyusun kerangka akhir.
7. Menyusun naskah pertama.
8. Mengadakan revisi.
9. Menyusun naskah akhir.
10. Mengoreksi cetakan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, H.G. 1984. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar