Rabu, 30 Maret 2016

Komentar Terhadap Ringkasan Buku Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa Karya Dr. Henry Guntur Tarigan



Keterampilan berbahasa mencakup empat segi, yaitu: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Harus diakui bahwa buku pegangan mahasiswa bagi keempat aspek keterampilan ini masih sangat langka dalam Bahasa Indonesia.
Buku ini disusun khusus untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKSS KIP Bandung dan juga para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi LAN Kampus Bandung, yang dalam kurikulumnya tercantum secara eksplisit/implisit bahwa keterampilan berbahasa Indonesia merupakan mata kuliah pokok dan pada umumnya untuk para mahasiswa, guru serta para peminat lainnya secara bertahap karena bagi para guru, para pemimpin, dan para sarjana, keterampilan berbahasa sungguh sangat penting, turut menentukan peningkatan karier dan profesi mereka dalam masyarakat.
Kelebihan buku ini adalah sudah dilengkapi dengan kegiatan yang dijelaskan secara bertahap mulai dari awal dan akhir kegiatan untuk mahasiswa, agar mencapai tujuan yang diinginkan. Buku ini menyajikan materi yang mendalam dan bisa digunakan oleh mahasiswa tanpa keraguan. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami isi dari materi yang disajikan. Buku ini juga sudah mengupas secara mendalam tentang bagaimana cara mengajar sastra di kelas. Selain itu buku ini juga bisa berguna sekali untuk buku panduan dosen serta mahasiswa perguruan tinggi pada jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
Kekurangan buku ini adalah tidak adanya latihan-latihan pada isi buku untuk pengayaan para siswa. Tidak adanya rangkuman pada tiap-tiap bab yang disajikan, sehingga membuat para pembaca membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya agar bisa memahami teks. Terlalu banyak analogi yang disajikan sehingga membuat para pembaca berpikir keras atau ekstra untuk memahami maksudnya. Terlalu banyak pemaparan, sehingga tidak langsung masuk pada inti dari maksud yang ingin disampaikan. Banyaknya bagan-bagan yang ditampilkan untuk penjelasan, yang sebenarnya itu sudah ditulis juga secara tertulis, itu berarti hanya membuang-buang saja dan tidak bermanfaat. Terlalu banyak penjelasan pada materi yang disajikan dan membuat pembaca harus membaca secara berulang-ulang untuk dapat memahami isi dari penjelasan yang ingin disampaikan tersebut dan juga tidak dilengkapi dengan biografi pengarang, sehingga membuat pembaca bertanya-tanya bagaimana sosok penulis buku tersebut.

Senin, 28 Maret 2016

Ringkasan Buku




Identitas Buku
Judul Buku                  : Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa
Penyusun                     : Dr. Henry Guntur Tarigan
Penerbit                       : Angkasa Bandung
Tahun Terbit                : 1984        
Cetakan                       : ke (angka terakhir) 
                                     10 9 8 7 6 5 4 3 2
Kota                            : Bandung
Jumlah halaman           : 197 halaman
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Keterampilan Berbahasa: Komponen-komponennya.
Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.
Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur, mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
1.2   Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.
1.2.1        Hubungan antara menulis dan membaca
Antara menulis dan membaca terdapat hubungan yang sangat erat, bila kita menuliskan sesuatu maka pada prinsipnya kita ingin agar tulisan itu dibaca oleh orang lain, paling sedikit dapat kita baca sendiri pada saat lain. Demikianlah hubungan antara menulis dan membaca pada dasarnya adalah penulis dan pembaca.
Tugas sang penulis adalah mengatur/menggerakkan suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan tertentu dalam bayangan/kesan pembaca. Khusus mengenai menulis, kualifikasi yang dituntut adalah sebagai berikut:
a.       Kualifikasi Minimal. Mampu menulis dengan tepat kalimat-kalimat atau pun paragraf-paragraf seperti yang akan dikembangkan secara lisan bagi situasi-situasi kelas, dan menulis surat sederhana yang singkat.
b.      Kualifikasi Baik. Mampu menulis “komposisi bebas” yang sederhana dengan kejelasan dan ketepatan dalam kosa kata, idiom, dan sintaksis.
c.       Kualifikasi Unggul. Mampu menulis beraneka ragam pokok pembicaraan (subyek) dengan idiom yang wajar, ekspresi yang cerah serta mudah dipahami, dan perasaan yang tajam terhadap gaya bahasa yang beraneka ragam dalam bahasa target.
1.2.2        Hubungan antara menulis dan berbicara
Kedua-duanya memiliki ciri yang sama yaitu produktif dan ekspresif. Perbedaannya ialah bahwa dalam menulis diperlukan pendengaran dan pengucapan. Baik menulis maupun berbicara harus memperhatikan komponen-komponen yang sama yaitu: struktur kata/bahasa, kosa kata, kecepatan/kelancaran umum, bedanya ialah bahwa menulis berkaitan dengan ortografi, maka berbicara berkaitan erat dengan fonologi.
1.3   Menulis Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Secara luas dapat dikatakan bahwa “komunikasi” adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan yang pasti terjadi sewaktu-waktu bila manusia atau binatang-binatang ingin berkenalan dan berhubungan satu sama lain.
1.4   Batasan, Fungsi, dan Tujuan Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan itu adalah: maksud dan tujuan sang penulis, pembaca dan pemirsa, dan waktu dan kesempatan.
Sehubungan dengan “tujuan” penulisan sesuatu tulisan, maka Hugo Hartig merangkumkan sebagai berikut : tujuan penegasan, tujuan altruistic, tujuan persuasif, tujuan informational, tujuan pernyataan diri, dan tujuan pemecahan masalah.
1.5   Ragam Tulisan
Deskripsi (pemerian), narasi (penceritaan atau pengisahan), eksposisi (paparan), argumentasi (pembahasan atau pembuktian), dan persuasi (membujuk).
BAB 2
TULISAN BERNADA AKRAB
2.1 Tulisan Pribadi : Makna dan Manfaat
Tulisan pribadi adalah suatu bentuk tulisan yang memberikan sesuatu yang paling menyenangkan dalam penjelajahan diri pribadi sang penulis. Hanya catatan atau laporan pribadi yang terbuka sajalah yang dapat menangkap kembali atau merekam secara tepat apa-apa yang telah kita rasakan atau alami pada masa lalu. Di samping kegunaan sesuatu laporan tertulis, maka perlu kita sadari bahwa peranan yang paling penting dari menulis adalah nilainya itu sendiri.
2.2  Ciri-ciri Tulisan Pribadi
Tulisan pribadi adalah suatu pernyataan dari gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai pengalaman-pengalaman kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita sendiri ataupun bagi kepentingan dan kenikmatan sanak keluarga atau sahabat karib. Tulisan pribadi dapat berbentuk suatu :
a.       Buku harian (diary)
b.      Catatan harian, jurnal (journal)
c.       Cerita tidak resmi (informal narrative)
d.      Surat (letter)
e.       Puisi (poem)
2.3  Bentuk-bentuk Tulisan Pribadi
Berdasarkan bentuknya, tulisan pribadi dapat diklasifikasikan atas: buku/catatan harian, jurnal (journal), cerita yang bersifat otobiografis (autobiographical narrative), lelucon yang bersifat otobiografis (autobiographical annecdote), esei pribadi (personal essay), dan catatan harian (jurnal).
2.4  Catatan Harian (Jurnal)
Menata buku harian merupakan suatu alternatif sangat baik yang memberikan keuntungan-keuntungan.
2.5  Cerita Otobiografis
Dititikberatkan pada tiga hal yaitu: makna dan ciri-ciri, teknik-teknik penulisan dan beberapa petunjuk menulis cerita otobiografis.
2.6  Lelucon Otobiografis
Lelucon dapat dibuat berobyekkan orang lain dan dapat juga berasal dari diri sendiri. Sadar atau tidak, kita sering mengucapkan lelucon-lelocun otobiografis, yaitu lelucon-lelucon yang berhubungan dengan riwayat hidup kita sendiri pada saat berbincang-bincang untuk menggelikan hati para teman atau menarik perhatian mereka kepada peristiwa itu sendiri.
2.7  Esei Pribadi
Merupakan salah satu jenis dari esei yang mempunyai dua bagian/cabang utama yaitu formal dan informal, resmi dan tidak resmi.
2.8  Siasat Perbaikan Tulisan Pribadi
Cara yang tepat guna untuk memperbaiki atau merevisi sepenggal tulisan tertentu adalah merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang ada hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan khusus perencanaan tulisan tersebut.
BAB 3
TULISAN BERNADA PENERANGAN
3.1 Tujuan Tulisan Bernada Penerangan
“Pengalaman adalah guru yang terbaik”, orang-orang tua. Bahkan sering ditambahkan “lama hidup”, banyak dan kian beraneka ragam pula yang kita lihat, dengar, rasa dan nikmati, kecap atau cium. Pendek kata : hidup adalah pengalaman.
3.2 Ragam Tulisan Pemerian
Ditinjau dari segi bentuknya, tulisan pemerian dapat dibagi atas: pemerian faktual dan pemerian pribadi.
3.3 Perbedaan Antara Pemerian Faktual dan Pemerian Pribadi
Perbedaan antara pemerian faktual dengan pemerian faktual agaknya dapat dinamakan degan perbedaan yang terdapat antara gambar foto dengan gambar lukisan. Walaupun si tukang foto berusaha memilih sudut pandangan, cahaya, komposisi, pembukaan lensa, dan kecepatan membidik dengan sebaik-baiknya dan dengan secepat-cepatnya, tetapi kebebasan mereka terbatas. Itu berarti menggambarkan subyek atau sasaran seperti adanya kepada kebanyakan orang.
BAB 4
TULISAN BERNADA PENJELASAN
4.1  Makna dan Tujuan Tulisan Bernada Penjelasan
Tulisan yang bernada penjelasan biasanya disebut tulisan penyingkapan. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa hampir semua yang kita tulis dapat dilasifikasikan sebagai tulisan informatif, tulisan yang bernada memberi penerangan.
4.2  Pokok Permasalahan dan Pembaca.
Dalam tulisan pribadi dan tulisan pemerian, kita dapat beranggapan bahwa para pembaca belum biasa terhadap pokok pembicaraan dan sesuai dengan itu kita harus menganalisis penikmat untuk menyadari apa yang telah mereka ketahui, apa yang ingin mereka ketahui dan apa yang mereka ketahui.
4.3  Bentuk-bentuk tulisan penyingkapan.
Berdasarkan bentuknya, tulisan penyingkapan dapat dibagi atas: klasifikasi, definisi, analisis dan opini.
a.       Klasifikasi merupakan suatu prosedur penyaringan yang memudahkan para penulis berusaha mengatasi suatu pokok pembicaraan yang luas yang dengan jalan membagi-baginya menjadi beberapa bagian.
b.      Definisi adalah penyingkapan yang merupakan dasar bagi semua tulisan yang bertujuan untuk menjelaskan.
c.       Analisis merupakan suatu proses pembagi-bagi bahan bagi maksud-maksud penyingkapan.
d.      Opini menuntut perhatian pada hubungan-hubungan logis.
BAB 5
TULISAN BERNADA MENDEBAT
5.1  Tulisan yang bersifat menyakinkan.
Tulisan persuasif adalah tulisan yang dapat merebut perhatian pembaca, yang dapat menarik minat, dan yang dapat menyakinkan mereka bahwa pengalaman membaca merupakan suatu hal yang amat penting. Ciri-ciri tulisan persuasif antara lain sebagai berikut :
a.       Tulisan persuasif haruslah jelas dan tertib.
b.      Tulisan persuasif haruslah hidup dan bersemangat.
c.       Tulisan persuasif beralasan kuat.
d.      Tulisan persuasif harus bersifat dramatik.
5.2  Persuasif logis.
Persuasi logis, atau yang biasa disebut argumentasi, dipergunakan pada situasi-situasi resmi seperti perdebatan-perdebatan, dan pada pengadilan-pengadilan tinggi.
5.3  Penalaran keliru.
Pada masa kini setiap hari dipadati oleh slogan-slogan iklan dan pidato-pidato politik. Hal ini mungkin saja menantang serta meragukan pendirian banyak orang bahwa penalaran logis yang terpercaya merupakan saran terbaik bagi kekuatan persuasif.
5.4  Rangkuman.
Susunan yang bersifat menyakinkan hendaklah mempertunjukkan jenis-jenis hubungan logis yang sama antara proposi atau masalah dan argumen-argumen penunjangnya yang ada diantara konklusi suatu silogisme dan premis-premis yang secara logis menuju ke sana.
BAB 6
TULISAN YANG BERNADA MENGKRITIK
Tulisan yang bernada mengkritik menghasilkan tulisan mengenai sastra. Agar dapat menghasilkan tulisan yang bernada mengkritik dengan baik, maka seseorang harus terlebih dahulu membaca karya yang akan dianalisis secara kritis. Ini merupakan syarat mutlak.
6.1  Peranan Penulis Sastra.
Dalam merencanakan dunia fiksi ini, para penulis memegang peranan yang beraneka ragam, antara lain :
a.       Penulis sebagai pemimpin/pengelola pentas: sebagai sutradara.
Sebagai sutradara, maka sang penulis memusatkan perhatian pada aspek-aspek teknis karya mereka.
b.      Penulis sebagai penulis cerita.
Sebagai penulis cerita, penulis naskah maka sang sastrawan berhadapan dengan aspek-aspek retorik sesuatu karya sastra. Aspek tersebut adalah :
Ø  Sudut pandangan.
-Sudut pandangan terpusat pada orang pertama.
-Sudut pandangan berkisar sekeliling orang pertama.
-Sudut pandangan orang ketiga terbatas.
-Sudut pandangan orang ketiga serba tahu.
Ø  Bahasa
Berbagai gaya bahasa dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan karya sang pengarang, antara lain:
-Aliterasi (pengulangan bunyi-bunyi yang sama)
-Antanaklasis (pengulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda)
-Antitesis (perbandingan dua buah antonim, yaitu kata-kata yang berlawanan makna)
-Khiasmus (pengulangan serta inversi hubungan antara dua kata dalam kalimat)
Ø  Penokohan
c.       Penulis sebagai direktur atau pemimpin.
Peranan penulis sastra sebagai direktur adalah membentangkan tahap-tahap makna yang telah menjadi sifat karya tersebut.
6.2  Tokoh
Penokohan atau karateristik adalah proses yang dipergunkan oleh seseorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh fiksinya. Tokoh fiksi dilihat sebagai yang berada pada suatu masa dan tempat tertentu dan haruslah pula diberi motif-motif yang masuk akal bagi segala sesuatu yang dilakukannya.
6.3  Alur
Istilah alur yang sama maknanya dengan alur atau plot. Ini adalah trap atau dramatic conflict. Keempat istilah ini bermakna “struktur gerak atau laku dalam suatu fiksi atau drama”.
Setiap fiksi haruslah bergerak dari suatu permulaan, melalui suatu pertengahan, menuju suatu akhir atau dengan istilah lain dari suatu eksposisi melalui komplikasi menuju resolusi.
6.4  Latar
Latar atau setting adalah lingkungan fisik tempat kegiatan berlangsung. Dalam arti yang lebih luas, latar mencakup tempat waktu dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dalam kegiatan itu.
6.5  Waktu
Waktu dalam suatu karya memang sangat penting dalam hubungannya dengan seleksi yang diadakan oleh sang pengarang, baik terhadap urutan waktu dalam penampilan penyajian karya tersebut, maupun terhadap masa atau periode penimbulannya.
6.6  Tema
Tema adalah gagasan utama atau pikiran pokok. Tema suatu karya sastra imajinatif merupakan pikiran yang akan ditemui oleh setiap pembaca yang cermat sebagai akibat membaca karya tersebut. Tema biasanya merupakan suatu komentar mengenai kehidupan atau orang –orang.
6.7  Teknik
Analisis terhadap sesuatu karya sastra belumlah dikatakan lengkap tanpa suatu telaah mengenai teknik pengarang, sarana-sarana artistik yang membayangkan isi. Teknik ini akan ditambahi lagi dengan gaya bahasa ironi, paradoks, simbolisme dan metafora.
BAB 7
TULISAN BERNADA OTORITATIF
Tulisan  yang bernada otoritatif menghasilkan karya ilmiah (the research paper). Tahap-tahap yang biasanya dilalui dalam tulisan ilmiah adalah sebagai berikut :
         1. Memilih pokok/topik.
          2. Membaca pendahuluan.
3. Menentukan bibliografi pendahuluan. 
      4. Membuat kerangka pendahuluan. 
      5. Membuat catatan. 
      6. Menyusun kerangka akhir. 
      7. Menyusun naskah pertama. 
      8. Mengadakan revisi. 
      9. Menyusun naskah akhir. 
      10. Mengoreksi cetakan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, H.G. 1984. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
            Bandung.