Sabtu, 05 Maret 2016

Cerpen


Kegia
Karya Dewi Herliani
            Adri adalah seorang anak yang sangat lincah dan aktif. Dia memiliki kulit seperti bulan purnama, alis yang begitu indah, bulu mata yang berkelok dan hidung yang mancung. Dia sangat sempurna sebagai makhluk.
            Pagi ini dia tidak seperti biasanya, badannya mulai panas tetapi sifatnya masih biasa saja, tidak ada yang berubah saat aku menggendongnya.
            “Ibu, mengapa badan Adri jadi panas begini.” Dengan nada sedikit cemas.
            “Iya nanti diberi obat” Menyahut dengan nada biasa saja.
            Aku pun langsung berangkat untuk pergi bekerja seperi biasanya. Sesampainya di tempat kerja, tidak beberapa lama kemudian aku pun merasa tidak enak hati dan merasa ada yang mengganjal.
            “Ada apakah gerangan, sehingga hatiku merasa tidak nyaman seperti ini.”
            Aku mulai uring-uringan dan merasa tidak fokus dalam bekerja. Tidak terasa pukul 14.30 wita, telepon selulerku berbunyi dan ternyata pesan dari keluargaku bahwa Adri masuk UGD.
            Mendengar kabar tersebut, aku pun mulai gelisah, tetapi aku harus bersabar dahulu karena jam kerja baru bisa pulang pukul 17.00 wita.
            “Ternyata firasat yang kurasakan selama ini memang benar, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
            Waktu pulang pun tiba, aku langsung cepat-cepat beres-beres dan langsung bergegas ke parkiran mengambil motor dan langsung pulang. Selama dalam perjalanan aku selalu berdoa, agar diberikan yang terbaik untuk keadaan Adri.
            Sesampainya dirumah aku ingin langsung bertanya kepada ibu mengenai keadaan Adri, ternyata ibu belum pulang dari Rumah Sakit.
            Aku berpikiran nanti akan menjenguk ke rumah sakit setelah aku bersih-bersih. Aku pun langsung mandi dan mencuci pakaian, setelah beberapa lama aku selesai ibu pun datang pukul 18.00 wita, Adri sudah bisa di bawa pulang kerumah, padahal saat itu lagi hujan. Tetapi untung ada teman ayahnya yang baik untuk menolong dan dia menjemput ke rumah sakit dengan menggunakan mobil. Aku langsung bertanya kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi tadi siang, dan ibu mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi tadi siang.
            “Awalnya keadaannya baik-baik saja, Adri sedang berbaring di tempat tidur, bercanda-canda dan tertawa-tawa dengan pamannya, ternyata tidak berapa lama kemudian dia timbul diam dan tidak ada suara sedikitpun, setelah di lihat dia sudah tidak bergerak, matanya terus melihat ke atas dan wajahnya mulai membiru. Tanpa pikir panjang lagi, Adri langsung di bawa ke rumah sakit. Disana dia di layani oleh perawat di rumah sakit tersebut dan diberi oksigen, selama 30 menit kemudian, akhirnya dia sadar dan pulih kembali.”
            “Wah, ganteng sekali.” Kata semua perawat disana
            “Oh, jadi begitu ya bu ceritanya.”
            “Iya sayang.”
            Sehabis maghrib banyak keluarga dan tetangga semua datang untuk menjenguk dan melihat keadaan Adri saat ini.
            “Iya ini sudah ketiga kalinya Adri mengalami seperti ini.” Kata ibu kepada semua yang datang.
            Ada salah satu tetangga yang memberi tahu obat untuk Adri ini.
            “Adri ini harus diberi inggu.”
            “Apa itu dan dimana itu bisa di dapat?”
 Kami sekeluarga saja bingung seperti apa itu bentuknya, namanya saja baru pertama kali mendengar di telinga.
            “Di pasar tradisional, tempat orang berjual kosmetik mungkin ada.”
            “Bagaimana cara menggunakannya?”
            “Hanya di taruh di ubun-ubun saja”
            “Oh, iya nanti besok di belikan.”
            Pagi-pagi sekali jam baru menunjukkan pukul 06.30 wita, tetangga tersebut datang dengan sangat tergesa-gesa dan wajahnya seperti orang mabuk, kelelahan, serasa mau menangis dan wajah tersebut menakutkan dan lain dari biasanya.
            “Assalamualaikum.” Dengan suara yang sedikit agak berat dan sangat tergesa-gesa.
            “Waalaikumsalam.”
            “Belikan dia inggu, inggu, jangan lupa, jangan tidak dibelikan. Huuu aku capek sekali di datangi oleh orang itu, dia itu badannya berwarna biru orangnya besar, ingat ya jangan tidak dibelikan, dia ini suka dengan anak ini jadi di ikutinya dan diganggunya terus anak ini, makanya belikan dia inggu agar dia tidak mengganggu dan mendekati lagi.”
Saat kulihat, matanya semakin tajam menatap kearahku dan aku pun langsung merinding dan merasa takut. Setelah itu cepat-cepat aku masuk ke dalam kamar.
Ku dengarkan dari kamar, ternyata dia langsung berpamitan kepada ibu.
“Aku pulang dulu.” Kata tetangga tersebut dengan nada lelah dan sangat tergesa-gesa.
“Tunggu-tunggu minum dulu ini.”
kakak pun menyediakan air minum di gelas yang besar dan tetangga tersebut langsung minum dan langsung habis diminumnya. Setelah itu baru dia berpamitan pulang.
Sesampainya di depan rumah tetangga tersebut, dia ditanya oleh keluarganya.
“Ada urusan apa kamu, pagi-pagi sekali kerumah tetangga?”
“Aku lupa, memangnya aku tadi ngapain kesana pagi-pagi?” Dia malah bertanya balik apa yang terjadi dengannya dan dengan muka sedikit bingung.
            Ternyata setelah di lihat dari gerak-gerik tetangga tersebut, dia dimasuki oleh alam sebelah makanya dia seperti amnesia tidak ingat apa-apa lagi seperti itu.
            Setelah kejadian pagi itu, siang-siang pukul 10.00 wita, orang tua Adri pergi kepasar untuk membelikan inggu, ternyata inggu itu kecil saja barangnya tetapi baunya luar biasa menyengat dan harganya juga mahal.
            Tetangga tersebut lagi duduk-duduk di depan rumah dengan ibu, sesampainya orang tua Adri, tetangga tersebut langsung saja berpamitan pulang katanya kepalanya agak pusing.
            Inggu itu pun langsung di taruhkan ke ubun-ubun Adri dan alhamdulillah panasnya mulai turun dan tidak kembali lagi penyakitnya.
            Keesokan harinya, ada keluarga yang datang dan melihat.
“Apa yang ada di kepala Adri itu.”
            “Itu inggu.”
            “Wah, inggu ini hebat bisa jadi makanan ikan, jangankan ikan, buaya saja bisa langsung mendekat.”
            “Ah yang benar kamu ini?”
            “iya beneran itu.”
            Aku yang mendengar itu, langsung penasaran sebenarnya dari mana asalnya tanaman itu jadi harganya lumayan mahal dan baunya juga sangat menyengat sekali seperti itu, kemudian aku memulai memanfaatkan teknologi menjelajahi internet untuk mencari informasi mengenai tanaman itu.
            Setelah ku cari dengan sangat teliti ternyata dapat, sebenarnya inggu itu adalah obat yang sangat langka, tumbuhnya hanya di dataran tinggi dan khasiatnya banyak sekali, bisa untuk demam, influenza, batuk, radang kulit bernanah, memar akibat terbentur, gigitan ular, radang paru, kolik, menghilangkan nyeri, hepatitis, haid tidak teratur, tidak datang haid, bisul, radang vena, pelebaran pembuluh darah bali, cacingan, sakit gigi, sakit kepala,ketombe, kolera pada anak, keracunan obat, dan racun lain yang mematikan.
            “Wah wah hebat sekali ternyata tanaman ini sangat banyak khasiatnya.”
            Aku pun menceritakan kepada ibu sebenarnya inggu itu seperti apa, dan ibu sangat terkejut dan mengapa baru mengetahui ada tanaman seperti itu.
            2 hari kemudian tanggal 22 Desember itu berarti adalah hari ibu.
            “Beberapa hari lagi kan hari ibu, bagaimana kalau kita memberi kejutan kepada ibu ka?”
            “Ide bagus juga itu, tapi bagaimana?”
            “Bagaimana kalau kita suruh Adri pura-pura punya penyakit seperti dulu lagi.”
            “Wah jahil sekali kamu de.”
            “Tidak apa lah ka, tapi nanti sebagian kita siapkan kejutan yang sangat berharga dan sangat berkesan ka.”
            “Oh, iya bisa juga itu, atur saja kamu ya de.”
            “Oke kakak, ikuti saja jalan cerita yang aku susun nanti ya ka, insya allah semuanya akan berhasil.”
            “Dasar kamu ini adik yang sangat sangat jahil sekali.”
            “Biar saja yang penting senang kakak.”
            “Ya sudah apa kata kamu saja.”
            Keesokan harinya rencana mulai di jalankan, semuanya berlaku dengan sewajarnya seperti biasa tidak ada yang berubah, agar rencana ini sukses.
            Aku pun mulai beraksi dan berbicara dengan ibu.
            “Ibu mulai besok sampai seminggu kedepan kan aku sudah bisa mulai cuti.”
            “Iya, terus?”
            “Boleh tidak kalau aku pergi liburan saja selama itu.”
            “Mau kemana kamu, dengan siapa.”
            “kemana saja lah bu, aku sendiri saja, kan aku sudah besar juga dan bisa saja jaga diri.”
            “Yang benar kamu ya, jangan memalukan diri kamu sendiri, apalagi keluarga.”
            “Siap bos tenang saja.”
            Aku pun langsung bersiap-siap untuk berangkat liburan. Ibu pun datang menghampiriku di kamar.
            “Banyak sekali kamu membawa baju seperti mau pindah saja.”
            “Tidak lah bu, kan biasa cewe bu ribet banyak keperluan.”
            “Iya, emang kamu itu selalu suka ribet, mengapa tidak simpel-simpel saja.”
            “Kan ini gaya aku bu.”
            “Ya sudah apa kata kamu saja.”
            Pagi-pagi sekali aku sudah berpamitan dengan orang rumah untuk pergi, dan setelah siang hari Adri mulai beraksi, dia mulai uring-uringan di kamar, bermanja-manja ria dengan ibunya. Tidak berapa lama kemudian orangtua Adri sengaja menghilang pergi entah kemana dan tidak berpamitan dengan ibu.
            Merasa di tinggal sendiri di kamar Adri pun menangis sekencang-kencangnya, ibu pun terkejut dan secepat mungkin dia lari dari dapur menuju kamar Adri. Kamu mengapa menangis Adri, dan di pegang ibu tubuh Adri tidak panas juga jadi dia tidak terlalu khawatir.
            “saya tinggal ke dapur lagi ya Adri.”
            “Iya.”
            Baru sebentar keluar dari pintu, setelah mau menutup pintu tiba-tiba saja Adri kejang-kejang lagi dan ibu pun mulai panik, bagaimana ini. Tanpa pikir panjang lagi. Namanya juga jiwa seorang nenek siapa yang tidak takut melihat cucunya kejang-kejang lagi. Dia pun langsung memanggil taksi untuk membawa cucunya ke rumah sakit lagi, di tengah perjalanan Adri sadar kembali dan dia  malah merasa lapar dan mengajak neneknya untuk pergi ke kafe yang sudah mereka rencanakan.
            “Yang benar kamu sudah tidak apa-apa lagi ini.”
            “Iya, beneran nenekku sayang.”
            “Ya sudah kita pergi ke kafe.”
            Sesampainya di kafe tersebut mereka memesan makanan dan Adri meminta ijin sebentar untuk pergi ke toilet. Nenek pun di tinggal sendirian di tempat itu, tiba-tiba saja lampu di kafe tersebut mati, nenek pun merasa takut. Tidak berapa lama kemudian ada yang berdiri  di depan podium dan menyanyikan sesuatu.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
            Beriringan dengan aku menyanyikan lagu tersebut, orangtuanya membacakan sebuah puisi.
Tanpa mama, kami tidak ada di dunia
Tanpa mama, kami bukan siapa-siapa
Tanpa mama, hidup kami terasa hampa
Tanpa kehadiran mama, kami bukan apa-apa
Bersama mama, kami selalu didampingi
Bersama mama, kami tidak pernah merasa sendiri
Bersama mama, hidup kami lebih berarti
Mama kau selalu dihati dan dijiwa kami
Terima kasih mama, sudah membesarkan kami
Terima kasih mama, sudah memperhatikan kami
Terima kasih mama, atas segalanya yang sudah diberikan kepada kami
Mungkin apa yang kami lakukan ini
Tidak sebanding dengan apa yang dilakukan dan perjuangan mama
Terima kasih mama kami tercinta

Kami semua datang mendekati ibu dan Adri  membawakan kue untuk neneknya. Ibu pun merasa terharu, tidak bisa membendung lagi tangis bahagianya dan anak-anak beserta cucu semuanya memeluk ibu dan berhasil memberikan Kegia (kejutan bahagia) pada ibu.
                                                              Selesai

Putih Abu-Abu
Karya Dewi Herliani
                                                                               
            Hari ini adalah hari pertama masuk SMA. Seperti yang kalian semua tahu , dimana saat siswa-siswi masuk kesekolah baru itu adalah Mos. Mos adalah Masa Orientasi Siswa. Dimana banyak anak-anak yang berpakaian aneh dan juga dikerjai oleh kaka osisnya. Tidak kebayangkan jadinya gimana keadaanku.
            Pukul 05.00 wita pun tiba. Aku pun siap-siap buat kesekolah baruku. Karena harus sampai disana pukul 06.00 wita. Astaga!!! Cukup senang juga akhirnya sekarang aku jadi anak SMA. Pakai seragam putih abu-abu.
            Pukul 05.30 wita pun tiba, saatnya berangkat sekolah. Biar tidak telat dan tidak dihukum. Karena belum tahu boleh bawa motor atau tidak. Jadi hari ini aku diantar orang tua sampai gerbang sekolah. Walaupun malu tapi tidak apa-apa banyak juga yang mos hari ini.
Pakaian hari ini itu adalah pakai baju olahraga, pakai rompi dari plastik warna merah, kaos kaki kanan warna merah dan kaki kiri warna putih, sepatu hitam pakai tali rapia warna kuning. Kebayangkan aku bagaimana ???
            Sesampainya digerbang sekolah aku minta doa restu semoga tidak terjadi apa-apa. Aku berjalan menuju gedung SMA, deg degan rasanya. “Masih sepi sekali” bicara dalam hati. Waktu dilihat kelapangan ternyata sudah ramai. Aku piker aku masih sendiri.
            Aku dapat kelompok 5 itu berarti aku akan berada satu kelas dengan teman kelompokku. Untungnya sahabatku waktu SMP yaitu Ifah satu kelompok dengan aku jadi aku masih ada teman bicara. Kata teman-teman ada yang mirip dengan aku juga, ternyata dia temanku waktu TK yaitu Rina kami sudah lama tidak bertemu dan dipertemukan lagi di SMA dan kakak pembimbing aku bernama Putra, orangnya dilihat baik. Semoga tidak galak. Selama 3 hari pun keadaan tetap sama seperti hari sebelumnya dikerjai oleh kakak-kakak osisnya.
            Hari kamis pun tiba, dimana hari keempat jadi anak SMA sekarang sudah resmi pakai baju putih abu-abu. Hari demi hari berjalan dan persahabatanku dengan Ifah dan Rina semakin erat.
Alhamdulillah kami satu kelas, sahabat-sahabatku ini sangat baik selalu mengerti aku ada disaat susah maupun senang. Aku sayang mereka, aku banyak cerita pada mereka.
            Sekarang sudah semester 1 dimana aku kenal dengan ka Putra lebih dekat. Awalnya dia minta nomor telepon aku. “Hai Tya” ka Putra mengirim pesan, aku yang lagi baca langsung terkejut. Apa ? Tya ? So akrab sekali dia. Aku pun mengabaikan pesan tersebut. Dia pun mengirim pesan lagi “Tya balas dong ? aku yang gregetan dia kirimi pesan terus akhirnya luluh dan membalas pesannya “Iya, ada apa?” balasku. Dan akhirnya aku pun akrab dengannya, nyaman dengannya, sampai-sampai mamaaku pun mengira kalau aku dan dia itu “Jadian” padahal tidak cuma teman saja sampai kapanpun.
            Hari demi hari berjalan, bulan demi bulan berjalan. Aku jalan dengannya, nonton dengannya, telponan dengannya, tidak terasa sekali, mungkin karena waktu-waktu bersamanya selalu aku nikmati dan sangat aku nikmati.
            Disuatu hari dia mengajak aku jalan kesebuah tempat yang begitu indah, pemandangannya sangat bagus dan disaat itulah dia mengutarakan isi hatinya kepadaku. Aku pun terkejut mengapa harus secepat ini, padahal kita juga baru kenal beberapa bulan yang lalu.
“Tidak apa-apa juga kan”
“benar juga tidak apa-apa”
“Bagaimana kamu mau tidak?”
Karena aku merasa nyaman dengannya, aku berpikir mengapa tidak dicoba dulu saja. Aku pun menjawab.
“Iya aku mau”
“Apakah kamu benar? Kamu serius, kamu tidak bohongkan dan aku tidak salah dengarkan?”
“Iya aku serius”
“Alhamdulillah terima kasih sekali, aku berasa ingin berteriak karena senangnya”
“Biasa saja dong”
            Akhirnya setelah beberapa waktu selalu bersama-sama Tya dan Putra jadian. Ternyata semua yang dikatakan diawal tidak mungkin tersebut pasti bisa saja akan menjadi mungkin.
                                                           
Selesai
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar