Kegia
Karya
Dewi Herliani
Adri
adalah seorang anak yang sangat lincah dan aktif. Dia memiliki kulit seperti
bulan purnama, alis yang begitu indah, bulu mata yang berkelok dan hidung yang
mancung. Dia sangat sempurna sebagai makhluk.
Pagi
ini dia tidak seperti biasanya, badannya mulai panas tetapi sifatnya masih
biasa saja, tidak ada yang berubah saat aku menggendongnya.
“Ibu,
mengapa badan Adri jadi panas begini.” Dengan nada sedikit cemas.
“Iya
nanti diberi obat” Menyahut dengan nada biasa saja.
Aku
pun langsung berangkat untuk pergi bekerja seperi biasanya. Sesampainya di
tempat kerja, tidak beberapa lama kemudian aku pun merasa tidak enak hati dan
merasa ada yang mengganjal.
“Ada
apakah gerangan, sehingga hatiku merasa tidak nyaman seperti ini.”
Aku
mulai uring-uringan dan merasa tidak fokus dalam bekerja. Tidak terasa pukul
14.30 wita, telepon selulerku berbunyi dan ternyata pesan dari keluargaku bahwa
Adri masuk UGD.
Mendengar
kabar tersebut, aku pun mulai gelisah, tetapi aku harus bersabar dahulu karena
jam kerja baru bisa pulang pukul 17.00 wita.
“Ternyata
firasat yang kurasakan selama ini memang benar, akan terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.”
Waktu
pulang pun tiba, aku langsung cepat-cepat beres-beres dan langsung bergegas ke
parkiran mengambil motor dan langsung pulang. Selama dalam perjalanan aku
selalu berdoa, agar diberikan yang terbaik untuk keadaan Adri.
Sesampainya
dirumah aku ingin langsung bertanya kepada ibu mengenai keadaan Adri, ternyata
ibu belum pulang dari Rumah Sakit.
Aku
berpikiran nanti akan menjenguk ke rumah sakit setelah aku bersih-bersih. Aku
pun langsung mandi dan mencuci pakaian, setelah beberapa lama aku selesai ibu
pun datang pukul 18.00 wita, Adri sudah bisa di bawa pulang kerumah, padahal
saat itu lagi hujan. Tetapi untung ada teman ayahnya yang baik untuk menolong
dan dia menjemput ke rumah sakit dengan menggunakan mobil. Aku langsung
bertanya kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi tadi siang, dan ibu mulai
menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi tadi siang.
“Awalnya
keadaannya baik-baik saja, Adri sedang berbaring di tempat tidur,
bercanda-canda dan tertawa-tawa dengan pamannya, ternyata tidak berapa lama
kemudian dia timbul diam dan tidak ada suara sedikitpun, setelah di lihat dia
sudah tidak bergerak, matanya terus melihat ke atas dan wajahnya mulai membiru.
Tanpa pikir panjang lagi, Adri langsung di bawa ke rumah sakit. Disana dia di
layani oleh perawat di rumah sakit tersebut dan diberi oksigen, selama 30 menit
kemudian, akhirnya dia sadar dan pulih kembali.”
“Wah,
ganteng sekali.” Kata semua perawat disana
“Oh,
jadi begitu ya bu ceritanya.”
“Iya
sayang.”
Sehabis
maghrib banyak keluarga dan tetangga semua datang untuk menjenguk dan melihat keadaan
Adri saat ini.
“Iya
ini sudah ketiga kalinya Adri mengalami seperti ini.” Kata ibu kepada semua
yang datang.
Ada
salah satu tetangga yang memberi tahu obat untuk Adri ini.
“Adri
ini harus diberi inggu.”
“Apa
itu dan dimana itu bisa di dapat?”
Kami sekeluarga saja bingung seperti apa itu
bentuknya, namanya saja baru pertama kali mendengar di telinga.
“Di
pasar tradisional, tempat orang berjual kosmetik mungkin ada.”
“Bagaimana
cara menggunakannya?”
“Hanya
di taruh di ubun-ubun saja”
“Oh,
iya nanti besok di belikan.”
Pagi-pagi
sekali jam baru menunjukkan pukul 06.30 wita, tetangga tersebut datang dengan
sangat tergesa-gesa dan wajahnya seperti orang mabuk, kelelahan, serasa mau
menangis dan wajah tersebut menakutkan dan lain dari biasanya.
“Assalamualaikum.”
Dengan suara yang sedikit agak berat dan sangat tergesa-gesa.
“Waalaikumsalam.”
“Belikan
dia inggu, inggu, jangan lupa, jangan tidak dibelikan. Huuu aku capek sekali di
datangi oleh orang itu, dia itu badannya berwarna biru orangnya besar, ingat ya
jangan tidak dibelikan, dia ini suka dengan anak ini jadi di ikutinya dan diganggunya
terus anak ini, makanya belikan dia inggu agar dia tidak mengganggu dan
mendekati lagi.”
Saat kulihat, matanya
semakin tajam menatap kearahku dan aku pun langsung merinding dan merasa takut.
Setelah itu cepat-cepat aku masuk ke dalam kamar.
Ku dengarkan dari
kamar, ternyata dia langsung berpamitan kepada ibu.
“Aku pulang dulu.” Kata
tetangga tersebut dengan nada lelah dan sangat tergesa-gesa.
“Tunggu-tunggu minum
dulu ini.”
kakak pun menyediakan
air minum di gelas yang besar dan tetangga tersebut langsung minum dan langsung
habis diminumnya. Setelah itu baru dia berpamitan pulang.
Sesampainya di depan
rumah tetangga tersebut, dia ditanya oleh keluarganya.
“Ada urusan apa kamu,
pagi-pagi sekali kerumah tetangga?”
“Aku lupa, memangnya
aku tadi ngapain kesana pagi-pagi?” Dia malah bertanya balik apa yang terjadi
dengannya dan dengan muka sedikit bingung.
Ternyata
setelah di lihat dari gerak-gerik tetangga tersebut, dia dimasuki oleh alam
sebelah makanya dia seperti amnesia tidak ingat apa-apa lagi seperti itu.
Setelah
kejadian pagi itu, siang-siang pukul 10.00 wita, orang tua Adri pergi kepasar
untuk membelikan inggu, ternyata inggu itu kecil saja barangnya tetapi baunya
luar biasa menyengat dan harganya juga mahal.
Tetangga
tersebut lagi duduk-duduk di depan rumah dengan ibu, sesampainya orang tua
Adri, tetangga tersebut langsung saja berpamitan pulang katanya kepalanya agak
pusing.
Inggu
itu pun langsung di taruhkan ke ubun-ubun Adri dan alhamdulillah panasnya mulai
turun dan tidak kembali lagi penyakitnya.
Keesokan
harinya, ada keluarga yang datang dan melihat.
“Apa yang ada di kepala
Adri itu.”
“Itu
inggu.”
“Wah,
inggu ini hebat bisa jadi makanan ikan, jangankan ikan, buaya saja bisa
langsung mendekat.”
“Ah
yang benar kamu ini?”
“iya
beneran itu.”
Aku
yang mendengar itu, langsung penasaran sebenarnya dari mana asalnya tanaman itu
jadi harganya lumayan mahal dan baunya juga sangat menyengat sekali seperti
itu, kemudian aku memulai memanfaatkan teknologi menjelajahi internet untuk
mencari informasi mengenai tanaman itu.
Setelah
ku cari dengan sangat teliti ternyata dapat, sebenarnya inggu itu adalah obat
yang sangat langka, tumbuhnya hanya di dataran tinggi dan khasiatnya banyak
sekali, bisa untuk demam, influenza, batuk, radang kulit bernanah, memar akibat
terbentur, gigitan ular, radang paru, kolik, menghilangkan nyeri, hepatitis,
haid tidak teratur, tidak datang haid, bisul, radang vena, pelebaran pembuluh
darah bali, cacingan, sakit gigi, sakit kepala,ketombe, kolera pada anak,
keracunan obat, dan racun lain yang mematikan.
“Wah
wah hebat sekali ternyata tanaman ini sangat banyak khasiatnya.”
Aku
pun menceritakan kepada ibu sebenarnya inggu itu seperti apa, dan ibu sangat
terkejut dan mengapa baru mengetahui ada tanaman seperti itu.
2
hari kemudian tanggal 22 Desember itu berarti adalah hari ibu.
“Beberapa
hari lagi kan hari ibu, bagaimana kalau kita memberi kejutan kepada ibu ka?”
“Ide
bagus juga itu, tapi bagaimana?”
“Bagaimana
kalau kita suruh Adri pura-pura punya penyakit seperti dulu lagi.”
“Wah
jahil sekali kamu de.”
“Tidak
apa lah ka, tapi nanti sebagian kita siapkan kejutan yang sangat berharga dan
sangat berkesan ka.”
“Oh,
iya bisa juga itu, atur saja kamu ya de.”
“Oke
kakak, ikuti saja jalan cerita yang aku susun nanti ya ka, insya allah semuanya
akan berhasil.”
“Dasar
kamu ini adik yang sangat sangat jahil sekali.”
“Biar
saja yang penting senang kakak.”
“Ya
sudah apa kata kamu saja.”
Keesokan
harinya rencana mulai di jalankan, semuanya berlaku dengan sewajarnya seperti
biasa tidak ada yang berubah, agar rencana ini sukses.
Aku
pun mulai beraksi dan berbicara dengan ibu.
“Ibu
mulai besok sampai seminggu kedepan kan aku sudah bisa mulai cuti.”
“Iya,
terus?”
“Boleh
tidak kalau aku pergi liburan saja selama itu.”
“Mau
kemana kamu, dengan siapa.”
“kemana
saja lah bu, aku sendiri saja, kan aku sudah besar juga dan bisa saja jaga
diri.”
“Yang
benar kamu ya, jangan memalukan diri kamu sendiri, apalagi keluarga.”
“Siap
bos tenang saja.”
Aku
pun langsung bersiap-siap untuk berangkat liburan. Ibu pun datang menghampiriku
di kamar.
“Banyak
sekali kamu membawa baju seperti mau pindah saja.”
“Tidak
lah bu, kan biasa cewe bu ribet banyak keperluan.”
“Iya,
emang kamu itu selalu suka ribet, mengapa tidak simpel-simpel saja.”
“Kan
ini gaya aku bu.”
“Ya
sudah apa kata kamu saja.”
Pagi-pagi
sekali aku sudah berpamitan dengan orang rumah untuk pergi, dan setelah siang
hari Adri mulai beraksi, dia mulai uring-uringan di kamar, bermanja-manja ria
dengan ibunya. Tidak berapa lama kemudian orangtua Adri sengaja menghilang
pergi entah kemana dan tidak berpamitan dengan ibu.
Merasa
di tinggal sendiri di kamar Adri pun menangis sekencang-kencangnya, ibu pun
terkejut dan secepat mungkin dia lari dari dapur menuju kamar Adri. Kamu
mengapa menangis Adri, dan di pegang ibu tubuh Adri tidak panas juga jadi dia
tidak terlalu khawatir.
“saya
tinggal ke dapur lagi ya Adri.”
“Iya.”
Baru
sebentar keluar dari pintu, setelah mau menutup pintu tiba-tiba saja Adri kejang-kejang
lagi dan ibu pun mulai panik, bagaimana ini. Tanpa pikir panjang lagi. Namanya
juga jiwa seorang nenek siapa yang tidak takut melihat cucunya kejang-kejang
lagi. Dia pun langsung memanggil taksi untuk membawa cucunya ke rumah sakit
lagi, di tengah perjalanan Adri sadar kembali dan dia malah merasa lapar dan mengajak neneknya
untuk pergi ke kafe yang sudah mereka rencanakan.
“Yang
benar kamu sudah tidak apa-apa lagi ini.”
“Iya,
beneran nenekku sayang.”
“Ya
sudah kita pergi ke kafe.”
Sesampainya
di kafe tersebut mereka memesan makanan dan Adri meminta ijin sebentar untuk
pergi ke toilet. Nenek pun di tinggal sendirian di tempat itu, tiba-tiba saja
lampu di kafe tersebut mati, nenek pun merasa takut. Tidak berapa lama kemudian
ada yang berdiri di depan podium dan
menyanyikan sesuatu.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
Beriringan dengan aku menyanyikan
lagu tersebut, orangtuanya membacakan sebuah puisi.
Tanpa mama, kami tidak ada di dunia
Tanpa mama, kami bukan siapa-siapa
Tanpa mama, hidup kami terasa hampa
Tanpa kehadiran mama, kami bukan
apa-apa
Bersama mama, kami selalu
didampingi
Bersama mama, kami tidak pernah
merasa sendiri
Bersama mama, hidup kami lebih
berarti
Mama kau selalu dihati dan dijiwa
kami
Terima kasih mama, sudah membesarkan
kami
Terima kasih mama, sudah
memperhatikan kami
Terima kasih mama, atas segalanya
yang sudah diberikan kepada kami
Mungkin apa yang kami lakukan ini
Tidak sebanding dengan apa yang
dilakukan dan perjuangan mama
Terima kasih mama kami tercinta
Kami semua datang mendekati ibu dan Adri
membawakan kue untuk neneknya. Ibu pun merasa
terharu, tidak bisa membendung lagi tangis bahagianya dan anak-anak beserta
cucu semuanya memeluk ibu dan berhasil memberikan Kegia (kejutan bahagia) pada ibu.
Selesai
Selesai
Putih Abu-Abu
Karya
Dewi Herliani
Hari ini adalah hari pertama masuk
SMA. Seperti yang kalian semua tahu , dimana saat siswa-siswi masuk kesekolah
baru itu adalah Mos. Mos adalah Masa Orientasi Siswa. Dimana banyak anak-anak
yang berpakaian aneh dan juga dikerjai oleh kaka osisnya. Tidak kebayangkan
jadinya gimana keadaanku.
Pukul 05.00 wita pun tiba. Aku pun
siap-siap buat kesekolah baruku. Karena harus sampai disana pukul 06.00 wita.
Astaga!!! Cukup senang juga akhirnya sekarang aku jadi anak SMA. Pakai seragam
putih abu-abu.
Pukul 05.30 wita pun tiba, saatnya berangkat
sekolah. Biar tidak telat dan tidak dihukum. Karena belum tahu boleh bawa motor
atau tidak. Jadi hari ini aku diantar orang tua sampai gerbang sekolah.
Walaupun malu tapi tidak apa-apa banyak juga yang mos hari ini.
Pakaian hari ini itu adalah pakai baju olahraga, pakai rompi dari
plastik warna merah, kaos kaki kanan warna merah dan kaki kiri warna putih,
sepatu hitam pakai tali rapia warna kuning. Kebayangkan aku bagaimana ???
Sesampainya digerbang sekolah aku
minta doa restu semoga tidak terjadi apa-apa. Aku berjalan menuju gedung SMA,
deg degan rasanya. “Masih sepi sekali” bicara dalam hati. Waktu dilihat
kelapangan ternyata sudah ramai. Aku piker aku masih sendiri.
Aku dapat kelompok 5 itu berarti aku
akan berada satu kelas dengan teman kelompokku. Untungnya sahabatku waktu SMP
yaitu Ifah satu kelompok dengan aku jadi aku masih ada teman bicara. Kata
teman-teman ada yang mirip dengan aku juga, ternyata dia temanku waktu TK yaitu
Rina kami sudah lama tidak bertemu dan dipertemukan lagi di SMA dan kakak
pembimbing aku bernama Putra, orangnya dilihat baik. Semoga tidak galak. Selama
3 hari pun keadaan tetap sama seperti hari sebelumnya dikerjai oleh kakak-kakak
osisnya.
Hari kamis pun tiba, dimana hari
keempat jadi anak SMA sekarang sudah resmi pakai baju putih abu-abu. Hari demi
hari berjalan dan persahabatanku dengan Ifah dan Rina semakin erat.
Alhamdulillah
kami satu kelas, sahabat-sahabatku ini sangat baik selalu mengerti aku ada
disaat susah maupun senang. Aku sayang mereka, aku banyak cerita pada mereka.
Sekarang sudah semester 1 dimana aku
kenal dengan ka Putra lebih dekat. Awalnya dia minta nomor telepon aku. “Hai
Tya” ka Putra mengirim pesan, aku yang lagi baca langsung terkejut. Apa ? Tya ?
So akrab sekali dia. Aku pun mengabaikan pesan tersebut. Dia pun mengirim pesan
lagi “Tya balas dong ? aku yang gregetan dia kirimi pesan terus akhirnya luluh
dan membalas pesannya “Iya, ada apa?” balasku. Dan akhirnya aku pun akrab
dengannya, nyaman dengannya, sampai-sampai mamaaku pun mengira kalau aku dan
dia itu “Jadian” padahal tidak cuma teman saja sampai kapanpun.
Hari demi hari berjalan, bulan demi
bulan berjalan. Aku jalan dengannya, nonton dengannya, telponan dengannya,
tidak terasa sekali, mungkin karena waktu-waktu bersamanya selalu aku nikmati
dan sangat aku nikmati.
Disuatu hari dia mengajak aku jalan
kesebuah tempat yang begitu indah, pemandangannya sangat bagus dan disaat
itulah dia mengutarakan isi hatinya kepadaku. Aku pun terkejut mengapa harus
secepat ini, padahal kita juga baru kenal beberapa bulan yang lalu.
“Tidak
apa-apa juga kan”
“benar juga
tidak apa-apa”
“Bagaimana
kamu mau tidak?”
Karena aku merasa nyaman dengannya, aku berpikir mengapa tidak dicoba
dulu saja. Aku pun menjawab.
“Iya aku
mau”
“Apakah
kamu benar? Kamu serius, kamu tidak bohongkan dan aku tidak salah dengarkan?”
“Iya aku
serius”
“Alhamdulillah
terima kasih sekali, aku berasa ingin berteriak karena senangnya”
“Biasa saja
dong”
Akhirnya setelah beberapa waktu
selalu bersama-sama Tya dan Putra jadian. Ternyata semua yang dikatakan diawal
tidak mungkin tersebut pasti bisa saja akan menjadi mungkin.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar