SCIENTIFIC
WRITING
Planning
(Perencanaan)
Dalam pembuatan karya ilmiah pasti ada tahap
perencanaan atau tahap persiapan penulisan, yang akan dilakukan agar dalam
penulisan karya tersebut lebih terarah atau teratur. Bagaimana seperti yang
sering kita lihat kegiatan menulis bukanlah suatu kegiatan yang kebetulan, melainkan memang telah
direncanakan
untuk menghasilkan sebuah penulisan karangan ilmiah yang baik, seorang penulis
harus merencanakannya dengan matang. Beberapa langkah yang harus dilalui meliputi : pemilihan topik, pembatasan topik, pemilihan judul, menentukan tujuan
penulisan, menentukan bahan penulisan, menentukan kerangka karangan,
langkah-langkah penulisan ilmiah, tahap pemeriksaan atau penyuntingan konsep (editing), dan tahap penyajian.
Jurnal yang saya baca dan
saya jadikan sebagai bahan acuan adalah penelitian oleh Nina Nurhasanah yang
berjudul “Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia” dari Universitas Esa Unggul Jakarta. Di
sana dia membahas mengenai pengertian bahasa, bahasa indonesia, bahasa gaul, tujuan penulisan, hasil dan Pembahasan,
fungsi bahasa, bahasa Indonesia, bahasa gaul, struktur bahasa gaul, pengunaan
awalan e, kombinasi k, a, g, contoh bahasa gaul, pengaruh penggunaan bahasa
gaul terhadap eksistensi bahasa Indonesia, cara mengatasi perkembangan dan
pemakaian bahasa gaul terhadap remaja, dan pentingnya berbahasa Indonesia.
Berikut sedikit pemaparan mengenai jurnal yang dibuat Nina Nurhasanah.
Bahasa adalah
identitas dari suatu negara ataupun wilayah yang digunakan sebagai alat
komunikasi utama. Setiap orang membutuhkan bahasa ketika berinteraksi,
mengungkapkan ide dan pendapat serta hubungan sosial lainnya.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang
kita pakai sehari-hari dan juga bahasa resmi negara kita. Dalam penggunaannya,
bahasa Indonesia mempunyai beberapa aturan yang harus ditaati agar kita bisa
menggunakannya dengan baik dan benar.
Bahasa gaul adalah gaya bahasa yang merupakan
perkembangan atau modifikasi dari berbagai macam bahasa, termasuk bahasa
Indonesia sehingga bahasa gaul tidak memiliki sebuah struktur gaya bahasa yang
pasti. Sebagian besar kata-kata dalam bahasa gaul remaja merupakan terjemahan,
singkatan, maupun pelesetan. Namun, terkadang diciptakan pula kata-kata aneh
yang sulit dilacak asal mulanya.
Bahasa gaul remaja memiliki ciri
khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek,
sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau
menggantinya dengan kata yang lebih pendek. Contohnya saja yang sering kita lihat
bersama, di masyarakat lebih cepat mempelajari bahasa gaul daripada bahasa
ibunya sendiri yaitu bahasa Indonesia.
Contoh bahasa gaul
GUE
Adalah bahasa “resmi” yang kini
banyak digunakan oleh kebanyakan orang (terutama orang dari Suku Betawi) untuk menyebut
“Saya/Aku”. Kata ini merupakan bahasa Betawi yang telah digunakan secara luas,
jauh sebelum bahasa prokem dikenal orang.
LO / LU
Sama seperti “Gue” kata ini pun sudah
digunakan digunakan oleh Suku Betawi sejak bertahun-tahun lalu dan menjadi kata
untuk menyebut “Anda/Kamu”.
ALAY
Singkatan dari “Anak Layangan”, yaitu
orang-orang kampung yang bergaya norak. “Alay” sering diidentikkan dengan
hal-hal yang norak dan narsis.
LOL
Kata ini belakangan ini sering
dipakai, terutama dalam komunikasi chatting, baik di YM, FB, Twitter,
atau pun komunitas yang lain. Kata itu merupakan singkatan dari Laugh Out
Loud yang berarti “Tertawa Terbahak-bahak”.
LEBAY
Merupakan hiperbola dan singkatan
dari kata “berlebihan”. GARING Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang
berarti “tidak lucu”. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya
kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar.
SECARA
Kata ini sebenarnya adalah bahasa
Indonesia, yang bermakna “Adalah”. Namun kata ini menjadi populer di tahun
2006an di kalangan siswa-siswi SMU yang menggunakan kata ini sebagai kata ganti
“Karena/Soalnya”. Sesekali pula digunakan sebagai sisipan tanpa makna (hanya
sebagai penekanan pada kalimat yang mereka katakan). Contoh pemakaiannya: Gua
gak bisa ke rumah lo neh hari ini, secara bokap gue lagi sakit. Ya… gimana
dong? Secara gue ini kan gaul…
KEPO kata ini singkatan dari Knowledge
Everything Particular Object yang artinya selalu
ingin tau.
Benar sekali apa yang telah
dipaparkan oleh Nina Nurhasanah yang tersebut di atas, mungkin pengaruh
kuat terhadap perkembangan berbahasa Indonesia, umumnya dalam hal bertutur
kata. Bahasa yang digunakan oleh remaja ini muncul dari kreativitas mengolah
kata baku dalam bahasa Indonesia menjadi kata tidak baku dan cenderung tidak
lazim. Jangankan remaja guru ataupun dosen sering sekali
menggunakan bahasa gaul ini.
Pemakaian
bahasa gaul dapat terlihat di iklan televisi, lirik lagu remaja, novel remaja,
jejaring sosial dan lain-lain. Inilah kenyataan bahwa tumbuhnya bahasa gaul
ditengah keberadaan bahasa Indonesia tidak dapat dihindari, hal ini karena
pengaruh perkembangan teknologi serta pemakaiannya oleh sebagian besar remaja
sehingga cepat atau lambat bahasa Indonesia akan tergeser keberadaannya.
Dengan demikian masalah seperti itu
harus kita basmi bersama dengan cara
menyadarkan masyarakat
Indonesia terutama para penerus bangsa, bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional harus diutamakan penggunaannya. Dengan demikian, mereka lebih
mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar daripada bahasa
gaul, menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan
juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan
bahasa Indonesia.
Sebagaimana
yang kita ketahui, bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang dapat kita
gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan menanamkan
semangat, masyarakat Indonesia akan lebih mengutamakan bahasa Indonesia
daripada menggunakan bahasa gaul,
pemerintah Indonesia harus menekankan penggunaan bahasa Indonesia dalam
film-film produksi Indonesia. Baik film layar lebar maupun sinetron. Dengan
penggunaan bahasa Indonesia secara benar oleh para pelaku dalam film nasional
yang diperankan aktor dan aktris idola masyarakat, masyarakat luas juga akan
menggunakan bahasa Indonesia seperti para idola mereka.
Meningkatkan
pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. Para siswa dan
mahasiswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog
dan monolog pada kegiatan bermain drama, dalam bentuk diskusi kelompok,
penulisan artikel dan makalah dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti
cerita pendek dan puisi. Dengan praktik-praktik berbahasa Indonesia dapat
mengembangkan kreativitas berbahasa Indonesia mereka dan juga dapat membiasakan
mereka berbahasa Indonesia secara baik dan benar.
Mungkin dengan
cara-cara seperti itu bisa mengatasi masalah-masalah di atas. Nanti
kalau saya menjadi seorang guru saya akan menerapkan semua siswa harus
berbahasa Indonesia yang baik dan benar, itu untuk melatih kebiasaan dalam
berbahasa Indonesia. Jika sering-sering dilakukan pasti penggunaan bahasa gaul
itu sedikit demi sedikit akan hilang dan akan menumbuhkan rasa cinta masyarakat
pada umumnya dan remaja pada khususnya pada bahasa Indonesia. Di dalam sumpah
pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dalam bait ke 3 di sebutkan bahwa “kami putra dan putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia” pastinya akan berubah ke hal yang baik dan bangga pastinya
berbahasa Indonesia.
DRAFTING
(Mengumpulkan Konsep-Konsep)
Dalam
pengumpulan konsep-konsep sebaiknya dibuktikan dengan bukti yang nyata bisa
berupa buku-buku dan lainnya, agar data tersebut bisa dipertanggungjawabkan.
Dengan begitu saya menggunakan buku Abdul Chaer yang berjudul Linguistik umum
dan buku Fonologi bahasa Indonesia. Buku-buku yang membahas mengenai
ucapan-ucapan dalam bunyi-bunyi bahasa dan pemendekan kata.
REVISING
(Merevisi / Meninjau Ulang)
Setelah
dilihat dan di timbang dalam penulisan ini pasti ada kesalahan, entah itu di
sengaja ataupun tidak maka dari itu sangat diperlukan kritik dan sarannya
kepada para pembaca.
WORKING
WITH IN THE PROCESS (Bekerja dalam Proses)
Setiap
pekerjaan apapun pasti dilakukan dengan proses terlebih dahulu, tidak mungkin
setiap pekerjaan itu berhasil tanpa adanya proses. Apalagi dalam hal menulis,
itu sangat perlu proses yang luar biasa dengan cara berpikir memunculkan ide
yang tidak biasa dan diikuti dengan
usaha yang dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar